Sabtu, 03 Januari 2009

Suvenir Tanaman Hias Mulai Diminati


Pengembangbiakan tanaman dengan sistem kultur jaringan atau kloning.


* Aglaonema, Anthurium Hingga Jati Emas

Jakarta,
Tandamata atau suvenir merupakan hal biasa yang ditemukan pada pelbagai acara, seperti pernikahan. Ada suvenir berupa kipas tangan paduan bahan bambu dan kain lukis, ada pula berbahan keramik, gantungan kunci dan sebagainya. Ketika semaraknya tanaman hias saat ini, sebagian masyarakat yang menggelar hajatan mulai memesan tanam sebagai suvenir.

Tanda-tanda mulai diminatinya suvenir tanaman pada saat perkawinan dikemukakan Antonius Karjono, pegiat pemngembangbiakan tanaman dengan sistem kultur jaringan di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat.

Karjono, laki-laki kelahiran Yogyakarta 60 tahun silam ini mengatakan, selain karena penggemar tanaman hias terus berkembang, pencanangan pemerintah pada program penanaman pohon untuk menjaga kelestarian lingkungan menghadapi pemanasan global (global warming) pun turut mendorong meningkatkan permintaan suvenir tanaman. Permintaan suvenir tanaman hias biasa dilakukan saat pernikahan, sedangkan suvenir tanaman keras biasa dilakukan pada acara pemerintah seperti seminar atau lokakarya.

Layaknya suvenir, tanaman dikemas apik, sehingga tidak merepotkan para tamu. Ada suvenir tanaman hias yang sedang digemari seperti Aglaonema, dan Anthurium. Tersedia pula tanaman buah-buahan hingga tanaman keras.

Bibit tanaman yang tumbuh dalam pot kecil dimasukkan lagi ke dalam kotak kertas. Kertak dilobangi segi empat dan dilapisi plastik bening, memungkinkan tetamu dapat memandangi indahnya tanaman hias sedari awal.

"Kami melayani sesuai permintaan. Agar persediaan terjamin, dimohon memesan tiga sampai empat bulan sebelum pemakaian," ujar Karjono yang juga pemilik rumah makan Bebek Ginyo, dan The Jon's Burger di kawasan Tebet, Jakarta. Harga satu paket bervariasi, antara Rp 7.500 sampai Rp 15.000.

Dalam pengembangbiakan ini, Karjono bermitra dengan Ovarianto, sesama penggemar tanaman. Mereka membuka kebun pembibitan dengan sistem kultur jaringan atau kloning. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya. Dengan sistem ini, pemesan tidak perlu khawatir jumlah pesanannya takkan tercukupi karena lambatnya pembibitan.

Menurut Ovarianto, sistem kloning dapat melipatgandakan jumlah pembiakan dalam waktu singkat. Dia mencontohkan pembiakan tanaman Aglaonema secara alami, satu pohon, maksimal dibiakkan 10-12 tanaman dalam setahun. Sedangkan dengan sistem kloning, tidak terbatas.

Dia menjelaskan, cara kerja kloning tanaman adalah dimulai dengan menyediakan daun muda, tunas atau akar. Biang itu dimasukkan ke dalam medium berupa botol kaca bening yang telah disterilikan.

Botol terlebih dahulu diisi bahan pendukung seperti hormon, gula, vitamin berupa agar-agar, dan karbon aktif. Butuh waktu sebulan untuk menumbuhkan kalus atau bentolan atau bahan tunas dari daun. Dari sehelai daun muda kurang lebih seukuran penampang sendok makan akan menghasilkan 10 kalus. Kemudian secara berlipat ganda, masing-masing kalus dapat dikembangbiakkan lagi ke medium berbeda untuk mendapatkan 10 kalus lagi.

Dengan dua kali pembiakan kultur jaringan diperoleh 100 kalus (10 X 10), dan seterusnya dapat dilakukan sesuai kapasitas yang dikehendaki sehingga sehelai daun muda dapat menghasilkan satu juta tanaman baru dengan sistem kultur jaringan.

Semua tanaman dapat dikembangbiakkan dengan sistem kultur. Dari tanaman hias, buah-buahan hingga tanaman keras. Tanaman merambat, pohon besar, berakar tunggang, akar serabut termasuk pisang.

Pada kebun pembibitan di Jati Bening, Bekasi, Karjono membiakkan antara lain tanaman hias berdaun indah nan mahal. Antara lain Aglaonema, dan Anthurium. beragam jenis Aglaonema, dan Anthurium tersedia, misalnya Anthurium Naga, Sweety, Kirky. Tanaman lain seperti pisang cavendis, nanas, jagung, kedelai, sawit, tembakau, kayu eboni, kayu jati emas.

Menurut Ova, sistem kultur inilah yang dikembangkan peneliti pertanian Thailand, sehingga komoditas pertanian Thailand unggul dengan produk-produk berlabel buntut 'Bangkok'. Tanaman yang dikloning, pertumbuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan pembiakan konvensional. Kelebihan lainnya, tahan hama dan penyakit.

Dia membantah pendapat yang menyebut kualitas tanaman hasil kloning lebih buruk. Jati misalnya, ada anggapan pori-porinya lebih kasar dengan ukuran. Jati lokal, untuk mencapai ukuran sekitar 20 cm butuh waktu delapan tahun, sedangkan jati kloning hanya empat tahun. "Lalu orang membandingkan keduanya. Kalau mau yang betul, bandingkan dari segi umur, yakni jati hasil kultur dengan jati lokal yang sama-sama delapan tahun, kualitas pasti sama, tetapi ukuran jati kultur jauh lebih besar," ujarnya. (Persda Network/domu damianus ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 02 Januari 2009

Ilmu Padi: Bersyukur dan Mensyukuri

BAGAI nasihat dari mahaguru. Bulan-bulan terakhir, ada-ada saja orang yang menyampaikan kata-kata bijak. Seorang sahabat dan sekaligus guru di Jakarta, mengajari atau tepatnya menyegarkan ingatan saya bahwa hanya ada satu raja yang memerintah di dua benua, lagit dan bumi. Dia lah Tuhan. Allah.

Sembahyang di depan Gua Maria Sendangsono. Umat memanjankat doa, dengan meminta perandataraan Bunda Maria agar mengantarkan doa-doa kepada putranya, Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat. Dalam ritual ini juga, umat memohonkan berkat dari Tuhan agar menjadikan air suci berfaedah seperti untuk keperluan penyembuhan.

Karena Dia raja di lagit dan di bumi, maka saya sebagai makhluk bumi diingatkan tidak mencampuri urusan langit, sebab itu urusan dan prerogatif Tuhan. Untuk urusan langit, misalnya hal-hal di luar kendali manusia, seperti soal peruntungan, dan kehidupan.

Jangan pula mencampuradukkan atau tepatnya mengontaminasi urusan bumi dengan langit. Misalnya, ketika banyak masalah seperti anak-anak jatuh bangun dari sakit, saat bersamaan ketika kondisi perekonomian sedang tidak stabil, dan setumpuk masalah lainnya, seseorang sering bertindak seakan-akan hakim yang mengadili Tuhan. "Mengapa begini Tuhan? mengapa begitu ya Allah?", "kok tidak begini saja, ya Tuhan! (sesuai rencana manusia)"

Nasihat itu saya dapatkan ketika sharing pengalaman pada saat dilanda beberapa persoalan pribadi. nasihat yang menumbuhkan kembali semangat, optimisme dan menggelorakan ulang mental baja, pantang menyerah yang berkali-kali saya serupa pada diri saya sendiri.

Umat mengambil air suci dari pancuran air yang bersumber dari mata air di bawah Gua Maria Sendangsono.

Semangat itulah yang terbukti ampuh mendorong saya lolos atau bangkit dari hal-hal yang semula tak terduga. Namun ada kalanya, semangat dan optimisme tenggelam di bawah alam sadar, terinjak-injak oleh kekuatan setan yang memupuk-tumbuh kembangnya pesismisme, kebencian. Untunglah matahari masih tetap terbit, menyemburatkan secercah harapan nan indah.

***
Akhir bulan lalu, selama tiga hari, 27-29 Desember 2008, saya mengikuti rombongan dari Lingkungan Stefanus, Paroki Santo Markus Depok melakukan ziarah rohani. Kami mengunjungi tiga petilasan umat Katolik di Jawa Tengah, yakni Gua Maria Kerep di Ambarawa, Gua Maria Sendangsono (Muntilan), dan Gua Maria Sriningsih (Klaten).

Serombongan orang, tua muda, laki perempuan, miskin kaya, yang normal dan cacat membaur menjadi satu kelompok yang kompak, rukun dan guyub. Berasal dari beragam kelompok etnis, warna kulit, suku dan bahasa. Sekelompok orang yang saling membantu, tanpa membeda- bedakan satu sama lain.

Melakukan serangkain acara secara marathon, semacam doa Rosario saat memasuki jalan tol Jagorawi, melakukan ibadat di depan Gua Maria Kerep, Misa di Paroki Ambarawa, ziarah ke Sendang Sono, hingga diakhiri litani Jalan Salib dengan 14 kali pemberhentian di bukit nan melelahkan di Sriningsih.

Dari rangkaian itu, selain semakin mengetahui betapa berat dan lelahnya sang nabi, Penebus dan Juru Selamat, Tukang Kayu dari Nazareth, Yesus Kristus, saya pun semakin mengerti kondisi spiritual seseorang. Nasihat yang menyebut tentang ilmu padi, "semakin tua semakin berisi dan semakin berisi semakin menunduk."

Beberapa dari rombongan, dalam hal harta dapat dikatakan melimpah, hartawan. Kaya pengalaman dan prestasi. Namun mereka tetap rendah hati, baik, melayani dan dermawan. Kontras dengan kesan yang dipertontonkan sinetron yang mendominasi layar kaca: orang kaya selalu serakah, durhaka, dan tak kenal belas kasih. Itu satu contoh yang saya akan terus coba gali dan dalami.

Kendati secara materi ada orang kaya, tetapi dalam hal lain, mereka tidak lengkap. Misalnya, ada di antara kami, keluarga mapan dan sudah manula tetapi tidak beroleh keturunan seorang pun. Tidak memiliki anak: putri maupun putra.

Ada pula kasus keluarga yang hidupnya pas-pasan, atau bahkan hitungan miskin, tetapi sang suami etap tidak tahu diri. Dia jatuh (berulangkali) ke dalam nista, misal berjudi dan mabuk- mabukan yang membawanya meringkuk di tahanan untuk kesekian kali.

Pemeblajaran kesekian, di antara kami, ada satu keluarga yang telah kehilangan anak sulungnya selama enam tahun. Ibu dan ayahnya mengaku terus merindukan putri yang memberikan mereka panggilan, namun berbagai upaya dilakukan, tak juga membawa hasil.

Sepulang dari ziarah rohani saya lebih tahu lagi, ternyata sang putri minggat dari rumah kala dia masih kelas 1 SMP, hanya karena ditegur ibunya mengenakan stelan pakaian yang kurang serasi dalam hal warna. Si ayah juga bercerita, putrinya lama berada dalam binaan sang nenek. Sehingga dia merasa anaknya lebih dekat secara emosi kepada nenek, daripada kepada kedua orangtuanya.

Kendati si anak sulung, dan putri lagi, tidak memberi kabar selama enam tahun, ayah dan ibunya masih yakin, yang bersangkutan hidup dan sehat. Tidak ada kekhawatiran, anaknya hilang atau menjadi korban perdagangan manusia. Pun tak ada ketakutan, putrinya menjadi korban kekerasan apalagi pembunuhan sesadis Riyan, si penjagal 'mutilasi' dari Jombang. Keluarga ini tetap tabah, tidak sampai sinting, suatu saat nanti, domba yang hilang akan kembali.

Dari kasus hilangnya anak kesayangan ini saya mendapat dua poin. Pertama, jangan memanjakan anak dengan menyerahkannya pada orang lain, termasuk nenek. Sebab ketika sang nenek/kakek meninggal, urusan jadi repot, karena si anak kehilangan tokoh idola, sedangkan ibu dan ayah adalah 'orang lain'.

Pelajaran kedua, sesulit apa pun beban kita, sekuat tenaga harus dicarikan jalan keluarnya. Harus dicarikan pemecahan masalahnya. Jangan mudah menyerah. Jangan gampang putus asa. Terus dan terus berjuang. If there's a will, there's a way; jika ada ada kemauan, pasti ada jalan.

***
HARI terakhir, dan dalam ritual terakhir, litani Jalan Salib di Sriningsih, saya menemui kuncen, seorang ibu, tinggi kurus yang sangat ramah. Si ibu dengan senyum, memandu saya untuk melakukan ritual di Gua Maria yang masih tampak sangat alami, jauh lebih hening, jauh di perbukitan, sepi dari penghuni. Berada di bawah rerimbun pohon jati.

Entah karena punya penerawangan atau karena mengikuti prosedur, si ibu memberi nasihat, yang menurut saya bukan berasal dari orang biasa. Bukan ucapan seorang yang dangkal spiritual, bahkan sangat bisa, memiliki 'kelebihan'.

Kalau sebelumnya saya minder dalam hal spiritual dibandingkan dengan orang-orang lain, dan minder pula dalam hal materi, maka setelah melewati semua rangkaian ziarah rohani, saya menjadi lebih pede. Saya semakin mengerti makna kata; bersyukur dan mensyukuri.

Apa pun saya adanya, saya harus tetap bersukur dan berteima kasih kepada Sang Pencipta, yang telah memberi rezeki hingga saat ini. Seperti ilmu padi tadi, lebih seringlah menunduk daripada mengongak. Seberapa pun bersahajanya kehidupan keluarga kami, seberapa rendah pun jabatan saya di kantor, betapapun sering digosipkan orang lain, saya harus tetap mengucap syukur sembari berdzikir lebih khusuk lagi meminta berkat melimpah, kesehatan prima dan kebahagiaan tercukupkan untuk bekerja keras meraih kesejahteraan.

Itulah makna yang dapat saya tarik dari perjalanan rohani, akhir tahun 2008, menandai cuti (selama sembilan hari) terpanjang saya dalam kondisi normal selama 10 tahun mengabdi di dunia profesional. Semoga bermanfaat. (Domu Damianus Ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 21 Desember 2008

Tumor Sebesar Anggur Bersarang di Batang Otak Tiara

* Anak 2 Tahun Lumpuh karena Tumor Otak

LUCU, dan aktif. Ngoceh banyak, berjalan lincah, berbicara lancar dan bahkan bernyanyi pintar, jauh di atas anak-anak seusianya. Itulah Tiara Ariani, bayi di bawah usia tiga tahun. Senin (22/12) ini usianya genap 2 tahun 4 bulan. "Orang-orang bilang, untuk seusia anak saya, dia termasuk sangat aktif," kata Feni Juliana, ibunda Tiara Ariani kepada Persda Network, Minggu (21/12).

"Saya sedih, tiba-tiba anak saya abnormal. Kaki kiri dan tangan kiri tidak bisa bergerak. Mulut tidak bisa bicara, makan pun harus lewat selang. Anak saya kok tiba-tiba seperti terkena stroke," ujar Muhammad Yani, ayah sang bayi.

Ya, Tiara Ariani memang batita yang lucu dan aktif. Saking aktifnya, dan perkembangan berjalan cepat, anak tunggal pasangan Yani dan Feni lebih dini langsung dimasukkan sekolah bermain (Play Grup) dekat rumah kontrakan mereka di Komplek Walikota Blok C-8 No 1, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat.

Namun kelucuan dan keaktifan Tiara terancam hilang. Ibu dan ayahnya yang sering tertawa terbahak-bahak oleh omongan lucu si anak, saat ini justru dirundung duka lara nesatapa. Sekarang Tiara hanya tergolek lemah di rumah sakit. Dia tidak dapat makan normal melalui mulut. Pun tidak mampu berbicara. Tiara dirawat di kamar 757 RS Siloam, Karawaci, Banten.

Anak semata wayang mereka sedang terbaring lemah di rumah sakit. Bukan penyakit ringan semacam diare, flu-pilek, atau demam berdarah sekalipun.

"Anak saya divonis mengidap tumor pada otak, dan harus dioperasi dalam waktu cepat," ujar Yani yang tak kuasa menahan tangis mengisahkan derita yang dihadapi bayi seusia Tiara. Feni, ibu Tiara, mengimbuhkan, "Kalau dia mau minta sesuatu, dia hanya bisa menunjuk, sambil menangis. Sedih saya melihat."

Keluhan Tiara menurut Kepala Neuro Science Center RS Siloam dr Eka Julianta Wahjoepramono, tiba-tiba lemah kedua lengan dan tungkai yang membuatnya tergeletak lumpuh, susah menelan, mata terganggu, dan bernafas sulit. "MRI tampak tumor batang otak sebesar buah anggur, berdarah. Diagnosa penyakit ini sangat langka pada anak seusia itu, yakni cavernoma batang otak yang mengalami bleeding," ujar Eka.

Tahun 2001 dr Eka yang juga pendiri Yayasan Otak Indonesia, tahun 2001, pernah menangani kasus serupa yang menimpa Ardiansyah, pemuda yatim piatu asal Cilegon, Banten. Sewaktu datang, Ardiansyah dalam kondisi kritis. Dia terancam lumpuh, buta dan napasnya putus. Penyakitnya bukan penyakit biasa, melainkan masih sangat langka yakni tumur bersarang di batang otak.

** *
Butuh Dana
Tiara menunggu operasi. Sayangnya, pihak keluarga tidak memiliki dana yang cukup. Ibu dan ayahnya sama-sama tenaga pemasaran. Muhammad Yani, ayahnya, sales perusahaan rokok, dan dan Feni pada toko buku. "Kami tidak memiliki mampu menyediakan untuk operasi dan kamar saya yang mencapai Rp 50 juta," kata Muhammad Yani.

Selama seminggu perawatan di satu RS di kawasan Ciledug saja, Yani-Feni telah mengeluarkan biaya lebih dari Rp 5 juta. Ditambahn biaya MRI otak sebesar Rp 2 juta.

Tiara dipastikan mengidap tumor otak. Setelah melalui proses Ctscan dan MRI, Satbu (20/12). Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat kedokteran di bidang pemeriksaan diagnostik radiologi , yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan meng-gunakan medan magnet. Ada pun Computed Tomography Scanner (CT scan). MRI menggunakan magnit , dan CT scan menggunakan sinar X. Pemeriksaan MRI dan CT scan saling melengkapi.

Tim bedah yang akan mengoperasi Tiara, dr Julius July SpBS, juga mengatakan keluarga tidak memiliki dana. "Kami ada pasien anak-anak yang butuh bantuan dana. Dia mengidap tumor jinak batang otak. Potensial bisa di tolong. Kami rencanakan untuk pembedahan baginya. Mohon bantuan dana," kata dr Julius July, salah satu tim dokter yang akan menangani operasi Tiara.

Feni, ibunda Tiara Ariani tak dapat menahan tangis saat berbicara per telepon dengan Persda Network. Dia berharap, ada pihak-pihak yang bersedia membantu untuk operasi anak tunggal mereka.

"Saya sangat berahrap semoga anak kami lekas sembuh. Semoga bisa sembuh dan normal lagi seprti semula, bisa berjalan dan bicara, bercanda normal," pinta dia penuh harap.

Feni menuturkan sebagai anak aktif, memang Tiara sering terjatuh saat bermain. Tetapi tidak sampai kepala terbentur akibat terjatuh. Karena itu, menurut dia, penyakit pada otak anaknya bukan karena kelalaian orang tua atau perawatan. "Menurut dokter tidak kaitannya dengan terbentur, melainkan tumor ini bawaan lahir," ujar Feni. (Persda Network/domuara damianus ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Suku Bunga BI Rate Ideal 8,5 Persen
* Agar Usaha Sektor Riil Bergerak
* Deflasi Alasan Pendorong Cukup Kuat

JAKARTA,
Pelaku usaha di sektor riil, yang juga Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang meminta Bank Indonesia (BI) segera menurunkan suku bunga acuan atau BI rate secara signifikan. Suku bunga perbankan yang rendah sangat diharapkan merangsang pergerakan usaha, dan pertumbuhan ekonomi nasional serta meredam angka PHK menghadapi krisis finansial global.

Penurunan suku bunga juga perlu karena negara-negara di dunia cenderung menurunkan suku bunga perbankan. Seperti dilakukan bank sentral AS, The Federal Reserve, pekan lalu menurunkan suku bunga pada level mendekati O persen, yakni di bawah 0,25 persen. Sedangkan BI rate berada pada level 9,25 persen, dan termasuk tertinggi di dunia.

Franky, sapaan Franciscus Welirang, menyarankan pemerintah jangan terlalu cemas pada tingkat inflasi. Sebab menurut dia, saat ini telah terjadi penurunan harga (deflasi).

"Inflasi selalu terkait dengan suku bunga bank. Menurut saya pemerintah terlalu takut pada inflasi, padahal sudah terjadi deflasi," ujar Franky dalam diskusi dengan wartawan di kawasan. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Bukti telah terjadi deflasi, harga komoditas biji palstik dan minyak mentah turun tajam di pasaran internasional. Harga komoditas jagung turun, kedelai turun, karet turun, sebentar lagi harga ban mobil juga turun. "Sebutkan satu persatu komoditas, semua harga turun antara 60-70 persen," kata Franky.

Dengan terjadinya deflasi, tak ada alasan mempertahankan suku bunga tinggi. "Mestinya suku bunga turun untuk merangsang perekonomian dan sektor riil. Ini yang dilakukan BI hanya kecil-kecilan, 25 basis poin. BI kenapa takut, idealnya suku bunga berada pada 8,5 persen," katanya.

Dengan suku bunga acuan yang rendah, maka suku bunga pinjaman perbankan pun rendah sehingga tidak membebani pengusaha atau masyarakat. Apabila usaha terutama sektor riil yang menyerap banyak pekerja tetap bertahan, maka laju pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis finansial global dapat diredam.

TARIK INVESTOR
Franky mengemukakan, penurunan suku bunga sangat penting untuk menhadang laju dampak krisi finansial global. Saat ekonomi dunia guncang, pemerintah harus cepat menggerakkan sektor riil.

Dengan bergeraknya ekonomi nasional, maka dengan sendirinya, investor asing akan masuk.

"Uang asing datang hanya pada saat ekonomi kita baik. Dan itu bisa ketika ekonomi dalam negeri positif. Saat krisis, biasanyan usaha keil dan menengah (UKM) meningkat dan tumbuh menggeliat. "Kunci yang penting adalah kebijakan yang signifikan," kata Franky.

Kendati mendesak BI menurunkan suku bunga perbankan, dia memahami kalau Boediono memiliki pertimbangan tertentu untuk mematok suku bunga.

Antara lain, mungkin pertimbangan adanya depresiasi kurs dolar terhadap rupiah. Namun, betapun ada depresiasi kurs dolar terhadap rupiah, tidak cukup alasan BI mempertahankan suku bunga tinggi, karena penurunan harga jauh lebih besar dibandingkan kenaikan kurs valuta asing. (Persda Network/Domu Damianus Ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 18 Desember 2008

Kutahu Jalan Terjal, tetapi...



* Sisi Terang di Balik Krisis Finansial Global

Gusar. Khawatir. Waswas. Cemas. Takut. Sejumlah kata dan padanan kata di depan kadang kala menghampiri setiap orang. Ya, Gusar. Khawatir. Waswas. Cemas. Takut. Sangat manusiawi. Seperti sifat lainnya, lapar dan kenyang, sedih dan gembira, tangis dan tawa, benci dan cinta, dan sebagainya.

Akhir-akhir ini saya, anda san tentu sebagian rakyat Indonesia dapat gembira dan tertawa sebab pemerintah meringankan beban 'relatif' mereka lewat penurunan harga bahan bakar minya (BBM) yang disbeut subsidi jenis premium atau bensin dan minyak solar. Bensin turun harga dua kali, yakni tanggal 1 dan 15 Desmeber 2008 masing-masing Rp 500, dari semula Rp 6.000 menjadi Rp 5.000/liter. Harga solar turun dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800/liter.

Penurunan harga BBM akibat menurunkan permintaan akan energi adalah hikmah di balik krisis. Harga minyak mentah anjlok, di bawah 45 dolar per barel, hanya seperti dari harga gila-gilaan yang mencapai hampir 140 dolar per barel, Mei 2008, adalah sisi terang di balik kegelapan dunia usaha terutama ekspor-impor, tahun ini.

Masyarakat yang terkena dampak langsung misal pengguna sepeda motor, pemilik mobil, nelayan dan pengguna mesin berbahan bakar bensin dan solar tertawa karena beban sedikit berkurang. Sekali lagi, hanya sedikit berkurang.

Saya misalnya, jika sebelumnya mengeluarkan 18 ribu untuk dua kali (PP) Depok-Palmerah, atau empat kali perjalanan, untuk si irit, Supra Fit, sekarang berkurang Rp 3.000 atau 16,7 persen. Jadi dalam dua hari saya dapat menghemat Rp 3.000, bila 26 hari kerja, berhemat kurang lebih Rp 39 ribu. Pengguna kendaraan bermotong lainnya pun merasakan kegembiraan seurapa saya. Dalam hal ini, pasti.

Senang dan tawa itu sayang hanya sementara. Sekejap saja. Beban hidup lain sedang menggelayut bak awan gelap pembawa badai. Pekan-pekan ini, berita bernada ancaman, mengkhawatirkan muncul dengan kunatiatas dan kualtias tinggi menghampiri pintu informasi kita entah melalui koran, portal, radio atau tivi.



Krisis finansial global yang bermula dari Amrik, sana diperkirakan akan terus bergerak menyapu seperti dahsyatnya tsunami di Aceh tahun 2004. Krisin finansial global yang akan menimbulkan semakin banyak orang kehilangan pekerjaan akibat terkena putusan hubungan kerja, menambah pengangguran, jumlah kemiskinan dan serentetan dampak ikutannya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) baru-baru ini mengingatkan permitnah segera mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan spending of goverment pada sektor infrastruktur yang padat karya, serta meminta buruh untuk tidak macam-macam mempersoalkan UMR. Sebab jika salah, jumlah penganggur baru akibat PHK sangat bisa menyamai rekor tahun 1997-1998 yang mencapai 2 juta jiwa.

Belanda Depok, eh PHK bukan lagi jauh. Dia sudah dekat, bahkan sudha tiba dan menyusup ke rumah-rumah masayrakat. PHK sudah terjadi. Banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor telah merumahkan pekerjanya. Bukan saja dalam negri, juga pekerja kita yang diekspor ke luar negrei, yakni para TKI.

Hari ini, Kamis (18/12/2008) Harian KONTAN mengatakan, pemrintah mengakui ada 250 ribu TKI yang terkena PHK. Dan diperkirakan 300 ribu TKI di Malaysia akan kehilangan pekerjaan, ratusan orang TKI di Korea Selatan dan Jepang pun sudah kehilangan kontrak.

Fakta-fakta inilah yang membuat kegembiraan dan tawa tadi sirna ditelan angin. Tawa hanya sebentar, dan tenggelam di tengah impitan ekonomi, merosotnya harapan hidup, meningginya gangguan kesehatan-kejiwaan yang ditandai angka bunuh diri makin deras bertambah, dan meningkatnya angka kejahatan sosial-kriminalitas.

Lebih banyak fenomenan, tanda-tanda zaman dan atau fakta yang justru membuat hidup gusar, khawatir, waswas, cemas dan takut.

***
Saya pribadi termasuk sempat terlena, membiarkan diri hanyut dan terombang-ambing dalam lautan kegusaran, kekhawatiran, kewaswasan, kecemasan, dan ketakutan. Entah mengapa, saya yang biasa optimistis, sempat hampir tenggelam dalam sikap pesimistis dan takut yang teramat dalam.

Semua hal-hal menakutkan itu muncul, karena mungkin saya terlalu menghati peran selaku wartawan. Saya bukan lagi sekadar menulis berita sesuai fakta atau pendapat orang lain, malah menginternalisasi pada diri saya sendiri. "Wah, kalau terjadi PHK jutaan orang, dan perekonomian nasional surut, jangan harap dapat menikmati ketenangan dan kesenangan paripurna: kecuali koruptor, maling, dan sejenis."

Kecemasan pun muncul karena masih banyak beban dan tanggungan, sementara dalwam waktu dekat mulai menyekolahkan anak, menyiapkan biaya persalinan untuk istri yang sudah pasti akan menempuh caesar. Pancuran banyak, tetapi hanya satu sumber mata air.

Untunglah pekan lalu, seroang sahat dan guru saya, motivator ulung, Grand Dynno Cressbon mengingatkan saya agar menatap jauh ke depan, dengan tidak terlalu mencemaskan hidup. Jangan terlalu takut. Jangan lebih banyak mengurusi dan memikirkan hal-hal kecil, sebab bisa gila.

Kala hatimu kacau dan badanmu lela karena melakukan pekerjaan dengan banting tulang tetapi hasilnya tidak berbandaing lurus, atau dengan bahasa eknomi, lebih besar pasak dari tiang, janganlah lantas menyalahkan Tuhan. Justru lebih banyak berdoa, dan beramal.

Menurutnya, berdoa yang baik bukan di rumah tetapi di temapt ibadat: gereja, masjid, pura, kuil, kelenteng dan lain sebainya, sesuai dengan agama masing-masing. Mengapa, sebab beribadat sekaligus beramal. Ya, karena memang saat ke gereja, misalnya, biasanya umat menyumbangkan persembahan: berapa pun besar kecilnya.

***
BAGI kaum sufistik, juga kalangan developmentalis, atau optimistis, gusar, khawatir, waswas, cemas dan takut adalah musuh. Lawan besar yang harus terlebih dahulu ditumbangkan agar kata- kata sukses, berhasil, maju, kaya, hebat, luar biasa dan tepuk tangan pun menyusul datang.

Seorang guru spiritual saya, Mgr FX Prajasuta MSF mengatakan, "janganlah takut. Sebab takut adalah nasihat paling jahat." "Janganlah takut?" Kataku dalam hati, "Bagaimana caranya?"

Josua pun berkata kepada para perwiranya, "Jangan cemas dan jangan takut. Hendaklah kalian yakin dan berani..."

Mengutip Bruder Martinus mengenai Providentia Dei (penyelenggaraan illahi) yang digambarkannya sebagai misteri Allah, yaitu ada hal-hal atau kejadian-kejadian dalam hidup manusia yang tidak bisa dimengerti, dipahami dan ditangkap oleh akal budi manusia.

Manusia, selaku ciptaan mempunyai kebaikan dan kesempurnaannya sendiri. Namun ia tidak keluar dari tangan Pencipta dalam keadaan benar-benar selesai. Ia diciptakan demikian bahwa ia masih "di tengah jalan" (in statu viae) menuju kesempurnaan terakhir yang baru akan tercapai, yang dipikirkan Allah baginya.

Dengan dan melalui penyelenggaran Ilahi ini, Allah menghantar ciptaan-Nya menuju penyelesaian itu. "Allah melindungi dan mengatur melalui penyelenggaraan-Nya, segala sesuatu yang diciptakan..."

Peranan kita dalam penyelenggaraan Ilahi yang mutlak, manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah atau terlibat di dalamnya. Seperti kelahiran dan kematian. Kelahiran merupakan panggilan awal dari Allah bagi manusia untuk menjalankan rencanaNya. Dikatakan penyelenggaraan Allah yang mutlak karena manusia tidak bisa memilih/meminta.

Apakah lalu ada penyelenggaraan yang tidak mutlak? Kiranya dapat dikatakan penyelenggaraan relatif. Penyelenggaraan relatif adalah jalan hidup manusia dimana manusia masih bisa terlibat di dalamnya dengan usaha dan perjuangan hidup. Misalnya: rejeki, jodoh, sakit, dsb.

* * *
Dengan merefleksikan kembali keberadaanku hanyalah selaku ciptaan, bukan pencipta, maka saya coba merenung sembari menundukkan kepala: Saya ini hanyalah manusia biasa, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Saya memang dapat merancang banyak desain hidup yang megah dan kokoh, tetapi jika Engkau berkehendak, semua itu hanyalah bak rumah berfondasi pasir. Saya memang boleh merencanakan banyak siasat, strategi, pekerjaan, dan persiapan, tetapi Engkaulah Ilahi Hakim Agung yang memutus setiap perkara dengan Adil.

Berkat Penyelenggaraan Illahi, semoga kegusaran, kecemasan, kewas-wasan, dan ketakutanku berubah menjadi sebuah semangat menggebu menuju sukses dan kejayaan. Semangat berani melibas ketakutan kemudian mengkreasi energi positif pembangkit mesin jiwa-sukma-raga- rohku menumpas tuntas energi negatif penghalang jalanku. Kutahu jalankau terjal, berliku dan berliko-kilo, tetapi tetap semangat, bersiasat dan jangan menyerah. (domuara damianus ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 07 Desember 2008

Sebulir Padi pun Hargailah

KRISIS finansial global, bukan lagi sebatas ancaman. Asal muasalnya memang dari negara nun jauh di sana, di barat, Amerika Serikat. Tetapi imbasnya sudah terasa, dan terjadi di mana-mana. Tidak usah repot-repot bicara ekonomi makri, ambruknya kerajaan bisnis Aburizal Bakrie, atau meruginya Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir pada investasi pasar modalnya, juga tak usah mengingat ambruknya PT Bank Century Tbk akibat gagal/kalah kliring, krisis kini semakin terasa di rumah tangga terutama berpenghasilan pas-pasan.

Cobalah dengar perbincangan di hipermarket, swalayan, pasar tradisional, hingga para ibu-ibu pembeli pada pedagang asongan, mereka menggerutu karena kenaikan harga kebutuhan pokok di luar nalar manusia sehat. Ya, semua kebutuhan mengalami kenaikan harga.

Tapi kondisi itu tentu saja pengecualian pada segelintir orang berkecukupan. Krisis sih krisis, tapi mereka tetap tampai serba wah. Mobil merk terbaru, motor keluaran anyar, tetap saja marak di jalanan. Penumpang angkutan udara untuk melancong ke luar negeri pun tak surut.

Kaum berduit ini pun tak perlu repot-repot, sampai berbusa-busa sekadar menawar seikat sayur atau sepotong ikat, atau sebungkus garam atau semug beras. Buat mereka hidup melimpah, makanan berlebih. bahkan sisa-sisa panganan berlebih cukup untuk sekali makan seorang tak punya.

***
Nasi Tak Boleh Sisa
Bicara tentang nasi, saya ingat sewaktu kecil. Ya, sebulir beras. Sewaktu saya kecil, orang tua kami, amang (mendiang) dan inang di kampung, selalu menanamkam agar setiap buliran nasi yang sudah disendok ke dalam piring harus dihabiskan. Tidak boleh berlebih dan dibuang. 'Filsafat' beras ini memang sangat dalam buat sebah perjuangan orang kampung.

Maklum, karena di Sihaporas, saat itu, tahun 1980-an, sulit mendapatkan beras. Kalaupun ada hanya beras gunung/darat. Untuk mendapatkan seliter beras, susahnya setengah hidup. hahah...... Saya masih mengalami, pagi dan malam saja makan nasi, sedangkan siang makan ubi atau 'gadong'.

Katakanlah dari proses bercocok tanam, padi ditanam di ladang kering yang disebut 'mangordang' atau 'martaduk', seseorang memegang dua ptong kayu sekaligus dengan ujung diruncingkan, seperti pensil diraut, lalu diposisikan menyilang (seperti leter x) dan dihunjamkan ke bumi untuk membuat lubang tempat menanam buliran padi.

Pangordang biasanya berjalan mundur, dan kadang-kadang kejedot bongkahan atau batang pohon bekas tebangan. Lalu di depannya, bebrapa 'partaduk', beramai-ramai menabur/memasukkan buliran padi ke dalam lubang. Padi ditanam pada 'juma roba' bukaan baru pada tanah yang masih berunsur hara banyak, padi tumbuh baik walau tanpa dipupuk (kimia maupun kandang).

Martaduk, saat itu dilakukan dengan cara marsialapari atau marsidapari atau gotong royong. Setelah dari ladang si A, besok atau lusa gantian ke ladang si B. Asyik, ramai, guyub, dan kompak.

Fase pertama ini biasanya disediakan hidangan enak. Kalau saban hari hanya 'gulamo tinutung'/ikan asin bakar, pada saat 'Mangordang, menu biasanya daging lengkap dengan sayur setidaknya ikan teri sambal atau ikan rebus, 'diarsik'.

Padi tumbuh, tinggi. Waktunya padi berisi, bunting atau 'boltok'. Saat itu banyak ancaman terhadap tanaman, entah hama semacam monyet, aili/babi hutan, maupun penyakit, termasuk musim yang kemarau panjang. Ada istilah puso, gagal panen.

Mungkin karena tingginya risiko itu, para leluhur/pendahulu selalu sengaja membuat acara ritual yang dikenal kegiatan "Martondi Eme". Diadakan acara doa bersama yang dipusatkan di satu ladang. Lalu di tempat itu doa diikuti makan besar bersama dengan lauk ikan sungat dan lomang (lemang) ada juga 'sibak', bahan dasar jagung ditumbuk dan didiamkan beberapa malam untuk fermentasi.

Sehari sebelumnya, biasanya semua warga kampung memanen ikan 'mandurung tu bombongan nabolon', membuka tambak buatan dengan menanggul sungai. Mandurung dilakukan sekali setahun. Ikan yang lazim didapat adalah si birsak, pora-pora, ihan (dikenal dengan sebutan ikan
batak), limbat (lele).

Setelah makan, setiap rumah tangga lalu membawa serta 'itak gurgur' (beras tepung mentah dikasih gula, seperti lampet) dan 'sanggar' tanaman liar bangsa palm, dan bambu bekas tempat memasak lemak, bangun-bangun dan rudang. Semua itu digantung di setiap sudut ladang.

Maksud dari ritual itu, doa agar padi berkembang dengan baik, jauh dari hama penyakit, dan panennya kelak memuaskan. Sehari sesudahnya disebut 'manangsang robu', hari pantang ke ladang padi tadi.

Saat musim panen, tidak semua orang memaneng dengan mudah. Saat itu, menggunakan alat sabit masih dianggap tabu, karena konon 'tondi' atau roh eme takut kalau padi dipotong pada batangnya, jadi leher padi yang 'diotom'. Tapi sebagian orang yang lebih modern dan berpikir praktis, mulai berani 'manabi'/sabit.

Untuk merontokkan buliran padi, dulu beluma da mesin. Lalgi-lagi cara gotong royong yang ditempuh, dengan istilah mardege'. Dege = injak. Jadi buliran padi diinjak-injak, secara berkelompok. Biasa dilakukan sore hingga larut malam, bahkan pagi buta. Mada itu ada istilah
'mardege di rondang bulan', yang sering dimanfaatkan para muda-mudi mencari berkenalan, pendekatan, bahkan mencari jodoh. Asyik memang.

Siangnya dilanjutkan kegiatan 'mamurpur' membersihkan padi dari jerami atau membuang 'halampung', padi hampa, tak ada isi. Kemudian padi dijemur agar dapat ditumbuk.

Setelah panen, tibalah masa yang ditunggu-tunggu. Namanya 'marsipaha lima', pesta besar sambil mengucap syukur atas panen yang baik. Warga pun ramai-ramai 'manduda i losung', menumbuk padi menjadi beras. Manduda bersama-sama pada balok besar dan panjang, yang terdapat tiga sampai lima lubang 'losung'. Satu 'losung', bisa ditumbu atau 'diduda' dua orang secara bersamaan, dengan ala atau 'andalu" bergantian, selang-seling.

Proses ini menggambarkan betapa berharganya sebulir beras/nasi di kala warga belum terbiasa mengonsumsi beras swah. Bukan karena tidak kenal, tetapi karena lemahnya daya beli yang hanya mengandalkan pemberian alam. Wajarlah, penduduk Sihaporas lebih banyak merantau, meninggalkan kampungnya yang masih tertingggal, jauh dari kemajuan.

** *
MAGNET JAHE

Kira-kira tahun 1981-1982 --saya sebut kira-kira karena tidak ada data pasti. Tapi saat itu saya sudah sekolah SD, masuk tahun 1980. Bermula dari Abang saya, Pak Herbina Ambarita, yang kawin dengan Br Sidauruk dari Tambunraya, membawa kira-kira puluhan kilogram bibit jahe. Ketika itu, jahe mulai marak ditanam di Simalungun, termasuk di Sidamanik dan Raya. Pak Herbi mendapatkan bibit dari pihak Mertua.

Belasan kilogram jahe itu ditanam di lahan yang terletak di samping rumah, Jabu Nabalga, yang sekarang pemukiman, antara lain rumah Edy Ambarita, Saor Ambarita, dan Lamhot Ambarita.

Pendek kata tanaman jahe cepat memuncak menjadi komodits unggulan untuk ekspor dari Sumut. Masa kejayaan ini berlangsung kurang lebih 20 tahun, hingga akhir 1990-an. Jahe diikuti pula tanaman tumpangsari lainnya seperti cabe, jagung, dan sayur-sayuran. Silih berganti dapat ditanami juga dengan padi dan tomat.

Masa itu betul-betul menjadi masa keemasan. Mencari uang sejuta dua juta bahkan belasan juta tidak sulit. Malah banyak pemuda yang karena tekun bercocok tanam, dapat memiliki kendaraan bermotor pribadi semacam sepeda motor dan mobil.

'Peradaban' bercocok tanam inilah yang menjadi magnet Sihaporas. Para perantau atau keturunannya kembali ke desa untuk bertani. Bercocok tanam jahe dan palawija lainnya.

Kini, Sihaporas mulai maju, setidaknya sarana transportasi tidak terisolasi, waulpun masih becek saat hujan. Penduduk yang tadinya tidak lebih dari 50 keluarga di tiga kampung, Lumban Ambarita Sihaporas, Sihaporas Bolon, dan Aekbatu, kini berkembang menjadi Desa Sihaporas yang telah dialiri listrik dan taliair.

Setelah masa kejayaan jahe, kopi usia pendek yang dinamai Kopi Ateng, kini menjadi unggulan bagi petani yang tidak menjual tanahnya kepada PT TPL (dahulu Indorayon). Semoga sharing ini bermanfaat sekadar pelepas rindu ke 'bonapasogit'. (domu damianus ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 12 November 2008

Keluarga Kaya Raya yang Tidak Bahagia
* Paradoksal Sejahtera dan Bahagia

KEMISKINAN tidak menghalangi niat satu semangat keluarga pemula ini. Mereka betul- betuk bernagkat dari nol besar, untuk membentuk keluarga: bukan keluarga kaya, tanpa kado rumah dan mobil dari orangtua, juga kolega dan pejabat.

Si suami adalah pegawai rendahan, dengan gaji paspasan. Si istri pun seorang pekerja bawahan. Walau pekerja bawahan, beruntunglah mereka karena masih memiliki pikirna, nalar, dna budi perketi yang baik. Iman menguatkan mereka dalam menghadapi hari-hari sulit di awal keluarga.

Mengontrak kamar, kemudian mengontrak satu rumah di gang sempit, kumuh. Saban hari mereka tun berdoa, "Ya, Allah limpahkanlah rezeki dan kesehatan pada keluarga kami." Demikian setiap mau makan, mau tidur, mau bekerja. Kelurga beriman yang tak pernah lepas dari doa.
Ya, Allah. Semoga Keluargaku Engkau berikan dan jaga selalu untuk sejahtera sekaligus bahagia.


Lima tahun pertama, hal itu dilalui dengan suasana baik, bahagia. Gaji kecil dikumpulkan terus dan dikelola dengan semangat hemat. "Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit," itulah prinsip mereka.

Bulan berganti bulan, tahun pun berlalu. Pendek cerita, Tuhan mengabulkan doa mereka. Sepuluh tahun berkeluarga, si suami mendapat kepercayaan luar biasa dari pimpinan. Dia diangkat menjdai Kepala Cabang pada salah satu kantor di daerah.

Sebagai pimpinan, si suami pun mendapat fasiltias berkecukupan: mobil, rumah, gaji besar dan bonus tahunan. Lain lagi kalau target terlampaui, maka insentif menjadi durian runtuh. Saat bersamaan, karier si istri tak kalah melonjak. Dia menjadi manajer kebanggaan di perusahaan.

Kini doa keluarga ini menjadi orang berkecukupan dan sejahtera telah terapai. Rumah di komplek elit, mobil tiga mewah tiga: untuk menunjang kerja suami, satu untuk mengantar istri arisan dan segala kegiatannya, dan satu khusus untuk anak-anak. Deposito pun menggunung.

Sudah menjadi tabiat manusia. Hidup berkecukupan, mata silau pada hal-hal duniawi. Kebersamaan, keakraban dan kesalingpercayaan di awal pernikahan dulu, kini menjadi sejarah tak tercatat. Jika dulu hidup solider betul, bersosial dengan baik, bekerluarga sangat santun, selalu bersama-sama berdoa dalam keluarga atau ke gereja, kini hidup mereka menggenapi perilaku orang kantoran: sibuk, individualistis dan tidak peduli: kamu ya kamu, saya ya saya.


Di tengah kesibukan dan kepenatan, kenalan sang suami mulai bertambah dan asalnya dari berbagai kelas. Kalau dulu alim dan saleh, sekarang mulai sering menikmati hiburan malam, yang akrab dengan alkohol, narkoba dan 'selibut hidup'. Sang suami akhirnya tergiur dan terpikat dengan wanita lain, dan hidup serupah tanpa ikatan perkawinan yang sah.

Tak kalah gentingnya, si istri pun hidup dengan gaya wanita karier metropolitan. Pergi ke kantor pagi, dan pulang malam. Di balik itu, dia juga ternyata menjalin affair dengan laki-laki lain, relasi bisnis.

Al hasil, dari satu keluarga yang awalnya utuh dan bahagia di saat miskin, namun di masa sejahtera justru membangun dua keluarga bayangan yang illegal. Mereka selingkuh masing- masing. Saat itulah, perhatian terhadap anak-anak menjadi sangat kurang. Kalaupun ada bersama-sama dai rumah pada akhir pekan, hanya badanlah yang bersama sedangkang pikiran ibu dan ayah, justru ada pada istri dan suami yang lain.

Apa yang mau disajikan di sini adalah, tentang doa. Apa yang ktia doakan selau terkabul, walaupun dalam waktu panjang. Tidak instan. Segala sesuaatu indah pada waktunya. Butuh kesabaran.

Karena itu pulalah, sahabat saya, Dynno Cresbon menasihati, berdoa pun harus pintar, pakai strategi dan spesisik. (Seperti kata bos kami di kantor, berita jangan probelatik terus, tetapi dengan angle yang menarik dan mikro, spesiifik dan peolpe hahahah). Kalau doanya itu-itu saja, ya yang di dapat pun itu-itu saja.

Dari itu, berdoa selain meminta kesehatan, rezeki dan kecukupan/kesejahteraan, jangan lupa menyisipkan permohonan kebahagiaan. Sebab seperti pada awal tadi, keluarga pemula jauh dari bahagia (lebih karen amenderita secara ekonomi) karena kektidaaan uang. Pada titik lain, ada keseimbangan antara kesejahteraan dan kebahagiaan, namun banyak pula, kebahagiana menjdai rusak karena serba berkecukupan.

Harta yang melimpat menutup cinta, kesetiaan, kerukunan, dan keterbukaan. Dengan harta berlimpah, semuanya penyertaan orang lain dan bahkan penyelenggaraan Illahi pun seakan dienyahkan dari dalam pikiran. Seoalh-olah, uanglah yang enjadi Tuhan, orang yang menghamba pada uang atau mempertuhankan perut: money is the second God.

Fenomena kegagalan manajemen kapitalimen gobal di Amerika dan dunia saat ini yang ditandai krisis finansial menjadi pintu masuk kita bermenung, bahwa menghamba pada uang/perut tidak abadi. Saatnya bersadar, melakukan gerakan kembali pada nurani dengan menyeimbangkan relasi manusia sesamanya, manusia dengan lingkungannya termasuk benda mati dan makhluk lainnya , serta hubungan manusia dengan Tuhannya.

Tulisan sekadar membagi meluapkan gagas sukma yang terpendam, semoga terkabul dan tidak takabur. (Domuara Damianus Ambarita)

[+/-] Selengkapnya...